Dangdut: Antara Dakwah dan Syahwat Oleh : Gawang Kristiana


UKM MUSIK GAS-21 | 07.31 |

Sedari kecil bagiku seni adalah suatu yang sangat akrab sekali dengan telingaku. Mungkin karna semasa aku masih kecil, ke dua orang tuaku sering mengajak nonton pertunjukan kesenian entah itu wayang kulit, ketoprak, reog, dangdut dan hiburan-hiburan lain yang sering di adakan oleh orang kampung ketika mempunyai hajatan. Dan tanpa kusadari kesukaan menonton hiburan semacam itu sampai dewasa ini. Akan tetapi bedanya kalau semasa kecil aku menonton masih di dampingi orang tua, tapi sekarang lain halnya. Sejak kecil pula aku telah di kenalkan oleh orang tuaku berbagai jenis musik keroncong, campur sari, dll. Juga musik dangdut yang memang sangat bekembang pesat mulai tahun 70-an itu. Melalui lagu-lagu dangdut karya Rhoma Irama, yang memulai karir nya dengan Soneta group. Meskipun pada beberapa tahun sebelumnya sudah ada yang memulai mempopulerkan musik dangdut yaitu Ellya Khadam yang tergabung dalam grup orkes melayu Kelana Ria, Arrafiq dan beberapa musisi dangdut yang belum terkenal pada waktu itu.
Bisa di katakan ini adalah awal hembusan nafas musik dangdut yang mulai hidup dan berkembang di Indonesia. Karna musik ini tergolong musik yang bisa di bilang, lugu,simple dan sangat mudah di terima di semua telinga dari kalangan anak-anak, dewasa, maupun orang tua. Maka musik dangdutpun mengalami perkembangan yang sangat cepat sekali pada era itu.
Dulu, musik dangdut merupakan obat penghibur paling mujarab. Dalam suasana hati yang bagaimanapun musik ini selalu bisa merasuk ke hati si pendengar. Bahkan Rhoma Irama atau si Raja Dangdut menggunakan musik dangdut sebagai media untuk berdakwah dengan jargon bertajuk Nada dan Dakwah. Hal ini mendapat respon yang cukup baik dari pihak masyarakat dan dari berbagai pihak. Rhoma beserta musisi dangdut lain seperti Ellya Khadam beserta musisi se-angkatannya di anggap sebagai pahlawan dangdut. Pasalnya merekalah yang meperkenalkan musik dangdut secara nasional dan Internasional. Seperti ketika awal tahun 80-an beberapa Profesor dari Cornell University Amerika, meneliti Rhoma Irama sebagai Superstar Pop Dangdut (Panjimas, 1983, No.416: 25).
Musik dan dakwah adalah sesuatu yang sangat langka dan sangat jarang sekali orang memikirkanya di kala itu. Ratusan lagu bernafaskan agama di ciptakan oleh musisi kondang ini. Lagu-lagu karya musisi jebolan tepi sungai Ciliwung , Tebet , Jakarta ini banyak menyuarakan tentang ajakan berbuat baik dan perintah untuk meninggalkan yang mungkar. Ketika awal didirikanya Soneta Grup pada tanggal 13 oktober 1971, ia mengatakan bahwa didirikanya soneta tidak untuk bermain hura-hara. Ia ingin menjadikan musik sebagai sebilah pedang untuk menegakkan kebenaran. Dalam arti Sang Raja Dangdut ini ingin ikut berpartisipasi dalam jihad fii sabilillah; untuk menegakkan kalimat Allah. Peran musik dangdut sebagai media dakwah memang sangat besar pengaruhnya. Dan terbukti ampuh mengobati keterbelakangan Iman di kalangan masyarakat. Dengan musik dangdut bernuansa religi dan dengan lirik-lirik yang khas, si pendengar atau penikmat merasa mendapatkan sesuatu yang berbeda. Selain iramanya yang melayu dan memang sangat cocok bagi selera orang Indonesia, lirik-lirik dari musik dangdut ciptaan Rhoma Irama juga banyak bercerita tentang realitas kehidupan manusia yang telah di perbudak oleh keserakahan akan harta, pangkat dan juga syahwat.  Dan tak salah jika kita melihat realitas semacam itu di era sekarang. Apapun akan mereka tempuh demi sebuah keinginan untuk memuaskan nafsunya. Setiap hari di media elektronik maupun media cetak tak henti-hentinya mengabarkan tentang adanya korupsi, pemerkosaan, kriminal dan tindak menyimpang lainya.
Keberadaan musik dangdut pun juga mengalami suatu perubahan besar-besaran di masa sekarang. Sebuah genre yang dahulu dikenal sebagai musik ciri khas bangsa Indonesia dan cukup ber-martabat, berubah menjadi ladang bagi manusia bersyahwat ria dan mengumbar nafsu. Di masa ini musik dangdut tak lebih dari segerombolan perempuan berpakaian ekstra ketat dan super sempit panjangnya tak lebih dari 5 cm di bawah kemaluan, dan berkualitas vokal pas-pasan.
Sebuah lagu dangdut yang berjudul ”Putri Panggung” yang di populerkan oleh penyanyi kondang Uut Permatasari mengandung lirik unik bila di tafsirkan.
“Saya si Putri, Si Putri sinden panggung
Datang kemari menurut panggilan Anda”
Kesan fulgar sebagai wanita “panggilan” tampak jelas sekali dalam penggalan lagu tersebut. Anehnya ketika si penyanyi sukses membawakan lagu tersebut ada kebanggaan. Bisa di pastikan karna si penyanyi mendapat imbalan atau saweran dari penonton yang tak seberapa banyak di banding dengan harga dirinya ketika ia bernyanyi dan berlenggak-lenggok dengan erotis di hadapan para penontonnya.
Seni di lahirkan oleh agama, dan etika tidak lain merumuskan ajaran agama tentang yang baik dan yang buruk (Saripin, 1960: 6). Agama tidak melarang manusia untuk berkesenian. Akan tetapi segala sesuatu ada etikanya. Dangdut telah berubah bentuk, wujud, dan fungsinya.yang dahulu di kenal sebagai hiburan yang sangat santun dan merakyat, kini berubah menjadi mesin penenun syahwat bagi manusia. Betapa tidak, di kota-kota besar banyak berkembang tempat-tempat hiburan malam, karaoke, dan kafe remang-remang yang telah menjamur di gang-gang sempit dalam setiap sudut kota. Bukan tidak mungkin jika lama-kelamaan akan kian menjamur ke pelosok desa. Di tempat seperti itu disajikan banyak penjaja seks dengan tarif variatif. Dari yang kisaran puluhan ribu sampai jutaan. Mereka akrab dengan dentum karaoke dari alunan musik dangdut yang menghentak.
Identitas musik dangdut dewasa ini terkesan buruk dan identik dengan erotisme belaka. Sering kita jumpai dalam konser-konser dangdut di berbagai daerah pasti di datangi oleh para manusia dari berbagai kalangan. Baik kaya, miskin, tua dan muda, semua campur aduk. Yang jelas bau alkohol yang menyengat pun juga tak ketinggalan dalam agenda-agenda semacam ini. Banyak orang memanfaatkan event semacam ini sebagai ajang hura-hura paling jitu. Dengan mengajak banyak teman lalu kemudian patungan untuk membeli alkohol dan kemudian bergoyang bersama-sama di bawah alunan musik dangdut yang berdentum sangat dahsyat serta di bumbui dengan goyangan erotis, semakin menambah panas arena lantai dansa. Maka penonton akan merasakan ekstase yang sangat dahsyat. Serasa sudah menjadi klimaks dalam kehidupanya.
Tak sedikit juga kasus kekerasan, perkelahian, bahkan tawuran antar kelompok terjadi dalam arena ini. Kebanyakan di picu karna tersenggol sedikit atau memang ada segelintir kelompok atau massa yang ingin unjuk gigi ingin berkuasa dan berkata “Akulah Sang Jagoan”. Dalam sekejap arena lantai dansa tempat orang-orang melampiaskan kegembiraanya itu berubah menjadi medan perang bagi para gladiator-gladiator dangdut.

1 komentar:

{ risma Amsir } at: 14 Desember 2015 14.45 mengatakan...

dangdut jaman sekarang udah lebih ke syahwat
se[erti info dari
http://djikas.net/archives/category/musik-dangdut

Posting Komentar

 
UKM MUSIK GAS 21 IAIN SURAKARTA © 2013 Design by | Sponsored by UKM MUSIK GAS 21